ipublic.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Kondisi ini menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah Indonesia.
Pelemahan rupiah di picu kombinasi sentimen global dan domestik. Ketegangan geopolitik Timur Tengah serta suku bunga tinggi Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia turut memperburuk kondisi. Investor memilih aset aman berbasis dolar AS di tengah ketidakpastian global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bank Indonesia menyatakan akan melakukan intervensi besar di pasar valuta asing. Langkah itu di lakukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan meredam gejolak pasar.
Pemerintah juga mulai turun tangan membantu penguatan rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan koordinasi dengan Bank Indonesia akan diperkuat mulai pekan ini.
Selain faktor eksternal, pembayaran utang luar negeri korporasi pada April dan Mei disebut memperbesar permintaan dolar AS. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin berat.
CNBC Indonesia mencatat level Rp17.500 menjadi area kritis baru rupiah. Angka tersebut melampaui tekanan yang terjadi pada beberapa periode gejolak ekonomi sebelumnya.
Tekanan rupiah ikut memengaruhi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tercatat melemah lebih dari 2 persen pada sesi perdagangan siang.
Bank Indonesia sebelumnya telah memperketat aturan pembelian valuta asing. Kebijakan itu bertujuan menekan spekulasi dan menjaga kestabilan pasar keuangan nasional.
Sepanjang tahun 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ekonomi domestik.
Penulis : Kir
Editor : Kir
Sumber Berita: CNBC Indonesia











