ipublic.id, Jakarta — Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus setelah Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus positif sejak 2024 di berbagai daerah Indonesia.
Dari total kasus tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Tingkat fatalitas penyakit ini mencapai sekitar 13 persen.
Kasus hantavirus ditemukan di Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Kesehatan memperkuat pengawasan serta mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran virus dari hewan pengerat.
Hantavirus diketahui menular melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup manusia dalam lingkungan tidak higienis.
Selain hantavirus, isu kesehatan nasional juga menyoroti meningkatnya kasus obesitas dan rendahnya kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Masalah kesehatan remaja turut menjadi perhatian pemerintah sepanjang 2026. Fokus utama meliputi anemia, stunting, kurang energi kronis, dan obesitas.
Pola konsumsi makanan instan berlebihan juga menjadi sorotan karena dikaitkan dengan meningkatnya risiko gagal ginjal kronis pada usia muda.
Di sektor global, penggunaan obat berbasis GLP-1 diperkirakan menjadi tren kesehatan terbesar sepanjang 2026, terutama untuk pengendalian obesitas.
Pemerintah juga terus memperkuat infrastruktur kesehatan nasional melalui pembangunan Rumah Sakit Adhyaksa di Jembrana, Bali.
Pembangunan rumah sakit tersebut diharapkan memperluas akses pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Bali Barat dan sekitarnya.
Masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan guna mengurangi risiko penularan berbagai penyakit. (*)
Penulis : Kir
Editor : Kir
Sumber Berita: Kompas.com











