ipublic.id, Jakarta – Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah berpotensi memberi tekanan pada perekonomian Indonesia. Kondisi ini dinilai dapat menghambat target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok di kisaran 6–8 persen.
Mengutip laporan Inilah.com, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai situasi geopolitik tersebut dapat menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia di sekitar 5 persen.
Menurut Nafan, salah satu risiko utama berasal dari potensi gangguan distribusi energi global. Terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak global melewati jalur tersebut. Jika terjadi gangguan, harga energi dunia berpotensi melonjak dan memicu inflasi.
Lonjakan harga energi dapat menekan daya beli masyarakat. Risiko ini semakin besar apabila pemerintah harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, kenaikan harga energi juga berpotensi menambah beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini terjadi karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan energi.
Tekanan global juga dapat berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut berpotensi memicu volatilitas di pasar saham domestik.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario jika harga minyak dunia terus meningkat.
Ia menyebutkan, jika harga minyak mencapai 92 dolar AS per barel, defisit anggaran berpotensi melebar hingga sekitar 3,6–3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Untuk menjaga defisit tetap di bawah batas 3 persen, pemerintah mempertimbangkan efisiensi sejumlah pos belanja. Termasuk evaluasi pada beberapa program serta kemungkinan penundaan sebagian proyek infrastruktur. (*)











