Rawang Negeri Bersendi Syara’, Namun Generasi Mudanya Mulai Menyimpang

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ipublic.id, – Mengikuti isu dan informasi yang berkembang di Hamparan Besar Tanah Rawang saat ini, hati terasa tergelitik sekaligus terpanggil untuk menuliskan kegelisahan tentang semboyan adat kita: “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah.” Sebuah pedoman hidup yang telah lama mengakar dan menjadi jati diri masyarakat Hamparan Besar Tanah Rawang.

Mungkin apa yang saya tuangkan dalam tulisan ini jauh dari kata sempurna, namun inilah buah pikirkan dan keresahan yang saya dan mungkin juga kita semua rasakan .

“Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah” ini bukanlah hanya sekadar slogan atau semboyan tanpa makna. Dari ratusan tahun lalu ia telah menjadi falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang kita yaitu Siak Lengis. Dalam ungkapan itu tersirat makna bahwa adat mesti dijalankan sesuai dengan ajaran Islam, dan Islam menjadi dasar utama dalam mengatur kehidupan masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Hamparan Besar Tanah Rawang yang memegang teguh falsafah ini, dulu surau atau masjid ramai oleh anak muda dengan berbagai bentuk kegiatan thawalib dan didikan subuhnya, pemangku adat betul-betul dihormati karena kewibawaannya, dan para cendikiawan menjadi tempat untuk bertanya. Sifat malu menjadi benteng, agama menjadi penuntun, serta adat menjadi pagar kehidupan sosial. Namun hari ini, kita sudah mulai melihat kenyataan pahitnya saat ini. Di tengah kuatnya slogan “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah” yang hampir setiap ritual kita ucapkan, namun generasi muda justru banyak yang terjerumus dalam lingkaran prilaku menyimpang.

Ironisnya, perilaku menyimpang ini telah merambah ke desa-desa, ke kampung-kampung, ke dusun-dusun, ke larik-larik, bahkan ke lingkungan wilayah yang dahulu dikenal sangat religius sekalipun. Anak-anak muda yang seharusnya menjadi pewaris adat dan penjaga marwah Tanah Rawang ini, justru banyak yang kehilangan arah akibat prilaku-prilaku menyimpang. Yang kita ketahui saat ini mungkin judi, penggunaan narkoba, penyimpangan seksual, pergaulan bebas. Itu baru saat ini. Mungkin masih ada lagi perilaku menyimpang lain yang telah berlaku kepada generasi muda kita saat ini.

Pertanyaannya, di mana letak kesalahan kita?

Saya mencoba untuk menerka jawabannya, mungkin selama ini adat dan syara’ lebih banyak dijadikan simbol daripada dijalankan dalam kehidupan masyarakat kita, terkhusus di Hamparan Besar Tanah Rawang. Petuah, saluko, petitih adat masih sering kita ucapkan dalam bentuk seremoni saja, sebatas parno, tetapi pengawasan terhadap anak kemenakan kita abaikan. Masjid-masjid berdiri megah di tiap desa, namun pendidikan agama dan moral di rumah semakin lemah. Anak di pangku kemenkan di bimbing hanya sebatas teori tanpa praktek.

Perilaku menyimpang ini tumbuh subur karena kosongnya perhatian kita, rapuhnya pendidikan karakter, dan hilangnya ruang pembinaan bagi generasi muda. Dahulu kita merasakan semarak dan majunya suatu desa tidak terlepas dari bimbingan dan pengawasan para senior, orang tua, pemangku adat, alim ulama. Saat ini generasi muda kita kehilangan tempat bercerita, kehilangan figur teladan, serta kehilangan arah hidup, kehilangan wadah untuk berekspresi, maka perilaku-perilaku menyimpang ini hadir menawarkan pelarian yang sifatnya sementara dan mencelakakan.

Sedihnya lagi, sebagian masyarakat terkadang memilih diam terhadap perilaku-perilaku menyimpang ini. Takut melapor karena masih memiliki hubungan atau karena malu membuka aib keluarga, bahkan ada pula yang menganggap persoalan ini hanya urusan aparat penegak hukum. Padahal ini adalah persoalan kita bersama. Jika generasi muda kita rusak, maka rusak pula masa depan Hamparan Besar Tanah Rawang ini.

Adat semestiinya tidak hanya bicara tentang gelar, pusaka, harta, turunan, atau upacara ritual. Adat semestinya juga berbicara tentang tanggung jawab menjaga anak kemenakan, anak di pangku kemenakan di bimbing. Dalam sistem masyarakat adat kita, generasi muda bukan sekadar individu, tetapi bagian dari marwah kalbu/kaum/perut dan negeri. Ketika seorang pemuda hancur karena perilaku menyimpang ini, maka yang tercoreng bukan hanya dirinya saja, tetapi juga wajah keluarganya, dan juga masyarakatnya.

Oleh karena itu, menggaungkan kembali semboyan “adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah”, di mana di Hamparan Besar Tanah Rawang ini, juga dikenal dengan “Mendapo Adat, Mendapo Syara” tidak cukup hanya dengan ucapan, parno, pidato dan spanduk. Ia harus hadir dalam tindakan nyata.

Hamparan Besar Tanah Rawang ini tidak kekurangan petuah, juga tidak kekurangan aturan. Yang mulai hilang adalah keteladanan dan kepedulian.

Jika hari ini generasi muda kita lebih mengenal hal-hal yang menyimpang daripada mengenal agama dan adatnya sendiri, maka mungkin itu tanda bahwa ada yang salah dalam cara kita menjaga dan mengurus negeri. Apabila keadaan ini terus-terusan dibiarkan, maka suatu hari nanti yang tersisa hanyalah slogan adat di dinding-dinding Rumah Gedang, sementara generasi mudanya telah kehilangan masa depannya.

Sudah saatnya di Hamparan Besar Tanah Rawang ini, adat dan agama tidak hanya menjadi warisan kata-kata (tutur), tetapi benar-benar menjadi kekuatan untuk menyelamatkan generasinya.

Wahai para pemangku, marilah duduk bersama. Perbedaan memang rahmat, tetapi kalau perbedaan itu tidak mendatangkan manfaat maka itu akan berubah menjadi mudarat.

Wassalam…🙏

Penulis : Kir

Editor : Kir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel ipublic.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hutri Randa Minta Formasi CPNS Tenaga Medis 2026 Dikaji Ulang, Jangan Tumpang Tindih dengan PPPK
Ketua DPRD Sungai Penuh Ikuti Retret Nasional di Akmil Magelang untuk Perkuat Kapasitas Kepemimpinan
Al-Razi: Ilmuwan Muslim yang Membuktikan Medis Harus Berdasarkan Fakta
Hormati Jusuf Kalla sebagai Negarawan, Iin Habibi: Jangan Terprovokasi Isu Pecah Belah
Sungai Penuh Raih Penghargaan Nasional di Rakorda Bangga Kencana 2026
Komisi III DPRD Sungai Penuh Gelar RDP Bahas Kenaikan Tarif Travel
Komisi II DPRD Gelar Hearing Bahas Penataan Pedagang Pasar Tanjung Bajure
Tarif Travel Resmi Naik, Ketua DPRD Sungai Penuh Soroti Dampak ke Masyarakat
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:05 WIB

Rawang Negeri Bersendi Syara’, Namun Generasi Mudanya Mulai Menyimpang

Jumat, 24 April 2026 - 11:55 WIB

Hutri Randa Minta Formasi CPNS Tenaga Medis 2026 Dikaji Ulang, Jangan Tumpang Tindih dengan PPPK

Jumat, 17 April 2026 - 06:28 WIB

Ketua DPRD Sungai Penuh Ikuti Retret Nasional di Akmil Magelang untuk Perkuat Kapasitas Kepemimpinan

Rabu, 15 April 2026 - 10:52 WIB

Al-Razi: Ilmuwan Muslim yang Membuktikan Medis Harus Berdasarkan Fakta

Rabu, 15 April 2026 - 01:09 WIB

Hormati Jusuf Kalla sebagai Negarawan, Iin Habibi: Jangan Terprovokasi Isu Pecah Belah

Berita Terbaru

Kota Sungai Penuh

Rawang Negeri Bersendi Syara’, Namun Generasi Mudanya Mulai Menyimpang

Sabtu, 2 Mei 2026 - 01:05 WIB